Salam Perpisahan


Di penghujung sore hariku, senja petang menghantar kepulanganmu.
Langkahmu yang setapak berayun kelu meninggalkan bayang kenangan di kota yang baru sembuh dari kabut.
Tak banyak yang ku ucap padamu, karena bulir-bulir yang jatuh dan eratnya peluk sudah cukup mewakili suara hatiku.
Mungkin, lewat untaian jemariku aku masih berharap bisa mengingatkanmu pada waktu-waktu terdahulu.

Ingatlah, kita dulu pernah berjabat tangan malu, saat saling bertukar nama di kala putih abu-abu.
Ingatlah, kita dulu pernah terbahak tanpa jeda, saat larut dalam gurau tanpa makna.
Ingatlah, kita dulu pernah diam seribu kata, saat kita tak menjadi satu dalam sebuah tuju.
Ingatlah, kita dulu pernah berpeluk erat, saat salah satu terjatuh dan lainnya berusaha kuat.
Ingatlah, kita dulu pernah bertukar usap, saat satu dan lainnya saling berderai dalam tangis dan isak.

Dan kini, tangan kita harus kembali berjabat.
Bukan lagi untuk bertukar nama, namun untuk menyampaikan salam perpisahan.
Karena sejatinya, tiap pertemuan yang Allah izinkan, akan selalu dihampiri oleh perpisahan yang telah Dia takdirkan.
Mungkin jabat tangan bisa saja lepas dan gelak tawa menjadi benar-benar berjeda.
Mungkin rangkul erat bisa saja longgar dan segala isak takkan lagi ada yang mengusap.

Tapi percayalah, tiap-tiap langkahmu masih akan tegak melenggang.
Tiap-tiap dingin pada lelahmu, masih akan hangat dalam pelukku.
Tiap-tiap tangis perihmu, masih akan terdengar dan bersandar di hatiku.
Tiap-tiap amarah dan kesalmu, masih akan sampai dan tumpah di pundakku.
Dan tiap-tiap rindumu akan selalu terbang menghampiriku dimanapun dan kapanpun.

Harapku padamu, berlarilah terus pada kebaikan-kebaikan di sekitarmu.
Kejarlah terus cita, cinta dan segala harap yang telah kau bangun.
Dan ketahuilah, sejauh apapun jarak dan waktu membentangiku, doaku takkan pernah putus merengkuhmu.

Komentar