Nanti kita akan mengetahui.
Bahwa patah hati tidak melulu soal perasaanmu pada sang perempuan atau lelaki.
Bukan soal cintamu yang bertepuk sebelah tangan.
Bukan soal hatimu yang diduakan.
Bukan soal rasamu yang diabaikan.
Bukan pula soal dirimu yang ditinggalkan.
Nanti kita akan menyadari.
Ketika kewajiban pada orangtua belum dituntaskan.
Ketika ibadah kita lalaikan.
Ketika keburukan lebih banyak dibanding kebaikan.
Ketika waktu kita sia-siakan.
Ketika dunia kita kejar dan akhirat ditinggalkan.
Disitulah kita akan benar-benar merasa patah hati.
Ya, kita benar-benar akan patah hati.
Karena kita mulai memahami.
Bahwa nikmat yang Allah beri tak pernah kita iringi dengan rasa syukur.
Bahwa kesempatan yang Allah buka tak pernah kita manfaatkan untuk bertaubat.
Bahwa dunia yang kita tumpangi tak pernah kita arahkan dengan baik menuju akhirat-Nya.
Maka begitulah patah hati yang sejati.
Bibir kita perlahan kelu, karena tak pernah bertasbih.
Langkah kita perlahan goyah, karena tanpa arah.
Hati dan jiwa kita perlahan mati, karena tak pernah bersentuh dengan ayat-ayat suci.
Maka bentengi selalu diri dengan iman dan taqwa.
Agar kita terjaga dari patah hati yang sia-sia.

Komentar
Posting Komentar